Sejak zaman Mataram, hampir tidak bisa ditemui perkebunan kopi di kawasan Gunung Merapi. Yang terdekat adalah perkebunan Kopi Losari, itupun jauh terletak kaki gunung Merbabu. Gunung Merapi yang sebagian masuk wilayah Yogyakarta, pada zaman Mataram lebih terkenal penghasil rempah-rempah, ramuan jamu dan pertanian. Sangat tidak familiar dengan hal kopi. Kopi Joss ala angkringan Lek Man di kawasan tugu bisa dibilang yang mengawali kopi khas di Yogyakarta.

Baru pada tahun 2000an masyarakat sekitar lereng Gunung Merapi mulai menanam tanaman kopi. Kawasan Desa Petung merupakan yang paling banyak ditemui. Menurut petani kopi di desa Petung, tanaman kopi sebenarnya sudah mulai ada di Gunung Merapi sejak masa kolonial. Tidak diketahui dari mana bibit kopi ini berasal, kemungkinan dari daerah Dieng dan Wonosobo. Dahulu kopi jenis arabika banyak ditanama di sini, namun berangsur-angsur petani mulai beralih ke jenis robusta. Pertimbangannya karena, kondisi tanah dan geografis. Kopi jenis arabika kurang begitu bagus dengan kondisi tanah vulkanis yang kebanyakan adalah pasir, dan ketinggian 1100mdpl lebih cocok untuk kopi jenis robusta.

Dengan lahan yang belum begitu luas, perkebunan kopi di Gunung merapi banyak mengalami hambatan akibat aktivitas vulkanik Gunung Merapi. Dengan fase erupsi 4-8 tahun sekali, petani di daerah Gunung Merapi harua bersabar ketika Gunung Merapi mulai mengeluarkan material vulkaniknya. Sebagian dari mereka beralih sementara menambang pasir sebagai sumber penghasilan. Salah satu warung kopi terkenal di Gunung Merapi adalah Kopi Merapi milik pak Sumijo di desa Petung. Berada area lava tour, banyak wisatawan datang kemari untuk rehat menikmati kopi arabika maupun robusta khas Gunung Merapi sembari menikmati pemandangan nan elok.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here